Minggu, 26 Juli 2009

Virus dan komitmen

Inilah kebiasaanku yang sulit sekali diubah, tiap belajar apapun sulit sekali fokus pada tujuan.
Pada awalnya belajar sangat menggebu, antusias, hingga dalam apapun pembicaraan selalu jadi salah satu bahan omongan. Energi full dicurah pada kasus yang sedang dipelajari. Segala upaya dikerahkan mulai dari cari buku-buku referensi sampai tanya-tanya sama om google, pokoknya tiada hari tanpa belajar. Khayalan membumbung tinggi seperti layaknya seperti orang berpacaran. Tahap awal belajar tanpa ada kesusahan. Grafik pengetahuan naik dengan bagusnya. Namun, sayang tatkala kesulitan mulai menghadang penyakit kambuhan juga datang. Antusias yang semula menggebu kini luruh oleh waktu. Perlahan tapi pasti virus malas meraja. Laksana embun pagi yang sejuk, indah, dan bening akhirnya lenyap tak berbekas seiring datangnya fajar. Hanya komitmen yang bisa mempertahankan harapan.

Bermula Dari Imajinasi

Benar apa yang pernah dikatakan einsteins, bahwa yang terpenting itu adalah imajinasi. Di dunia ini bila tanpa ada imajinasi pasti tak kan ada kemajuan. Apapun benda atau sistem yang diterapkan dan dipakai oleh kita untuk kenyamanan hidup ini berasal dari imajinasi. Dengan imajinasi segala yang diinginkan bisa terwujud. Bagaimanapun liarnya imajinasi manusia lambat-laun pasti terwujud selama tidak melanggar hukum alam. Hukum alam atau sunatulllah adalah hukum yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Mencipta yang tidak dibisa dilanggar. Bila kita mencoba melanggarnya kehancuran pasti menanti kita.
Disamping hukum alam yang tak bisa digugat lagi ada faktor lain yang menghambat terwujudnya imajinasi, yang utama adalah keinginan kuat dari manusianya itu sendiri untuk mewujudkannya. Memang kita mahfum bahwa untuk memujudkan imajinasi ada faktor internal dan eksternal yang membatasi.
Faktor internal diantaranya: ilmu yang kita punya, berani mencoba, pantang menyerah, etos kerja, dll.
Faktor eksternal : Keuangan, fasilitas, mitra kerja, lokasi, dll.

Sebagai langkah awal mari kita berimajinasi dan diteruskan langkah kedua untuk mewujudkanya.

Bila semua faktor dapat kita eliminir apapun yang kita imajinasikan pasti terwujud. Amin...!

Mari kita berimajinasi...

Label: ,

Sabtu, 18 Juli 2009

Mengapa sulit membuat tulisan

Pertengahan tahun 2009 baru kenal apa itu blog. Belum banyak yang bisa di post karena kegiatan tulis-menulis bukan kegiatan yang biasa aku lakukan. Untuk membuat satu postingan saja mikirnya sampe lamaaa banget. Padahal kalau menurut teori untuk membuat tulisan itu mudah. Sejatinya menulis itu, kan hanya memindahkan satu cara bentuk komunikasi, misalnya dari lisan ke bentuk tulisan. Apa aja bahan omongan bisa dituliskan. Namun kenyataanya untuk bisa mengungkapkan omongan ke bentuk tulisan susahnya minta ampun. Kalau dalam bentuk omongan (verbal) untuk mengungkapkan satu kalimat bisa ditekankan dengan intonasi sementara kalau dalam bentuk tulisan bagian intonasi ini sulit sekali diterjemahkan.
Jurus saktinya tetap harus banyak latihan dan memperpanjang jam terbang.